28 Januari 2009

Pegagan, si rumput liar kaya manfaat

Jika melihat gambar tanaman di samping apakah kita pernah ingat bahwa mungkin hampir setiap hari kita selalu menginjaknya? Ya….tentu saja kita lupa dan bahkan mungkin kita tidak tahu bahwa tanaman yang setiap hari kita injak saat kita berjalan di rerumputan yang sedikit lembab ini adalah rumput bukan sembarang rumput. Tanaman ini disebut pegagan dengan beragam nama lainnya berdasar penyebutan di daerahnya masing-masing. Pegagan, tanaman herba yang mudah sekali tumbuh menjalar di atas tanah ini adalah rumput liar terlupakan dengan segudang manfaat.

Pegagan dikenal dengan nama latin Centella asiatica Linn Urban atau Hydrocotyle asiatica, Linn. atau Pasequinus, Rumph. Nama ini diturunkan dari bahasa latin ‘hydro’ yang berarti air karena dia sangat suka dengan kondisi lembab dan ‘cotyle’ yang berarti mangkuk karena daunnya yang sedikit berbentuk cekung. Tanaman ini merupakan tanaman asli daerah Asia tropik yang tersebar di seluruh wilayah Asia Tenggara termasuk kepulauan sepanjang samudra Indonesia, India, RRC, Jepang dan Australia kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain. Beberapa informasi ilmiah terkait tanaman ini antara lain:

Habitus

Pegagan
merupakan tanaman tahunan daerah tropis yang berbunga sepanjang tahun. Tanaman ini mudah sekali ditemukan karena dapat tumbuh di dataran rendah sampai daerah dengan ketinggian 2.500 m dpl. Pegagan termasuk tanaman liar yang banyak tumbuh merayap menutupi tanah di tepi jalan, padang rumput, perkebunan, ladang, pesisir pantai ataupun pada daerah-daerah lembab atau agak basah dan cukup sinar matahari atau agak terlindung seperti di sepanjang tepi sungai, pematang sawah, pinggiran rawa, pinggir selokan, dan sebagainya.

Morfologi

Pegagan merupakan tanaman terna atau herba menahun tanpa batang, tetapi dengan rimpang pendek dan stolon-stolon
lunak dan beruas yang merayap dengan panjang 10-80 cm. Pada tiap ruas/bonggol akan tumbuh akar berwarna putih dan daun dengan tangkai daun panjang, banyak bercabang yang membentuk tanaman baru. Dengan berkembang biak secara vegetatif alami seperti itu, ia cepat beranak-pinak. Jika keadaan tanahnya bagus, tiap ruas yang menyentuh tanah akan tumbuh menjadi tanaman baru. Selain itu pegagan juga dapat diperbanyak dengan pemisahan stolon dan biji. Daun pegagan berhelai tunggal, bertangkai panjang sekitar 5-15 cm, berbentuk bulat ginjal, tepinya bergerigi atau beringgit, diameter 1-7 cm tersusun dalam roset yang terdiri atas 2-10 helai daun dan kadang-kadang agak berambut. Bunga pegagan berwarna putih atau merah muda, tersusun dalam karangan berupa payung, tunggal atau 3-5 bunga bersama-sama keluar dari ketiak daun, dan tangkai bunga sekitar 5-50 mm. Buah pegagan kecil bergantung, berbentuknya lonjong/pipih panjang 2-2,5 mm, lebar lebih kurang 7 mm dan tinggi lebih kurang 3 mm, berlekuk 2 berwarna kuning kecoklatan dan berdinding agak tebal, baunya wangi dan rasanya pahit.

Klasifikasi
Kingdom
: Plantae (tanaman)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)

Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (dikotil)

Sub-kelas : Rosidae

Ordo : Apiales

Familia : Apiaceae

Genus : Centella

Spesies : Centella asiatica (L.) Urban


Jenis Pegagan

Jenis pegagan yang banyak dijumpai adalah pegagan merah dan pegagan hijau. Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun atau antanan batu karena banyak ditemukan di daerah bebatuan, kering dan terbuka. Pegagan merah tumbuh merambat dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyai batang tetapi mempunyai rhizoma (rimpang pendek). Sedangkan pegagan hijau sering banyak dijumpai di daerah persawahan dan di sela-sela rumput. Tempat yang disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat agak lembab dan terbuka atau agak ternaungi. Selain itu, tanaman yang mirip pegagan atau antanan ada empat jenis yaitu antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung dan antanan air.

Nama Lokal

Daun kaki kuda, daun penggaga, pegago (Melayu, Sumatera); pegaga (Ujung Pandang, Aceh); ampagaga (batak); antanan gede, antanan rambat (Sunda); pegagan, gagan-gagan, ganggagan, antana, cowet gompeng, panigowang, pantegowang, calingan rambat, rendeng, kerok batok (Jawa); kos tekosan (Madura); taidah (bali); bebele, paiduh (Nusa Tenggara); wisu-wisu, kisu-kisu (Sulawesi); kori-kori (Halmahera); dau tungke (Bugis); pagaga (Makassar); kolotidi manora (Ternate); sandanan, dogauke (irian).


Nama Luar

Takip kohol (Pilipina); beng da wan, han ke cao, ji xue cao (Cina); spadeleaf, pohekula (Inggris); broken copper coin, buabok (Inggris); paardevoet (Belanda); brahma buti, indian hydrocotyle/indian pennywort, gotu kola (India).


Kandungan senyawa kimia

Pegagan yang simplisianya dikenal dengan sebutan Centella Herba memiliki kandungan senyawa triterpenoida yaitu Asiatic acid, Madaciatic acid, Asiaticoside, Madecassoside; dan senyawa-senyawa polyacetylene, kaempferol, quercetin, myo-inositol, vellarine, asam amino, dan resins. Selain itu juga terkandung unidentified terpene acetate, camphor, cineole, campesterol, stigmasterol, sitosterol; B-Karioneta, B-Kariofilen, B-Elemena, B-Farnesen, B-Sitosterol, thankuniside, isothankuniside, brahmoside, Asam Elaiodat brahmic acid, brahminoside, meso-inositol, centelloside, carotenoids, saponin, hydrocotyline, tannin, zat samak, serta garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi.


Sifat Kimiawi dan Efek Farmakologis
Berdasarkan penelitian farmakologi yang dilakukan, efek farmakologi utama dari pegagan ini diketahui berasal dari kandungan
glikosida triterpenoida yaitu Asiaticoside yang berfungsi meningkatkan perbaikan dan penguatan sel-sel kulit, stimulasi pertumbuhan kuku, rambut, dan jaringan ikat, meningkatkan perkembangan pembuluh darah serta menjaganya dalam jaringan penghubung (connective tissue), meningkatkan pembentukan mucin (zat utama pembentuk mucus) dan komponen-komponen dasar pembentuk lainnya, seperti hyaluronic acid dan chondroitin sulfate, meningkatkan daya kompak (tensile integrity) dermis (jaringan kulit di bawah epidermis), meningkatkan proses keratinisasi (pembentukan keratin) epidermis melalui perangsangan pada lapisan luar kulit, dan meningkatkan efek keseimbangan pada jaringan penghubung. Begitu juga asiaticoside dan senyawaan sejenis merupakan antilepra (Morbus Hansen). Selain itu dosis tinggi dari glikosida saponin akan menghasilkan efek pereda rasa nyeri. Dikatakan juga, saponin yang terkandung dalam tanaman ini mempunyai manfaat mempengaruhi collagen (tahap pertama dalam perbaikan jaringan), misalnya dalam menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan (antikeloid), mempercepat penyembuhan luka, dan melebarkan pembuluh darah tepi (vasodilator perifer). Sementara kandungan vellarine yang ada memberikan rasa pahit.

Walaupun masyarakat Indonesia telah banyak menggunakan berbagai jenis tanaman untuk alternatif penyembuhan penyakit secara tradisional, tetapi masih sedikit sekali yang tahu manfaat dari tanaman pegagan. Hal ini terlihat karena di Indonesia, pegagan rata-rata digunakan hanya sebatas untuk lalapan atau bahkan hanya dibiarkan tumbuh menjalar menjadi tanaman liar saja, sementara di luar negeri sudah dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Bagian dari tanaman pegagan yang dimanfaatkan sebagai obat adalah daun dan bagian yang berada di atas permukaan tanah. Pegagan dimanfaatkan sebagai obat tradisional baik dalam bentuk bahan segar, dikeringkan dalam bentuk teh, maupun yang sudah dalam bentuk ramuan (jamu) bahkan sudah ada yang mengambil ekstraknya untuk dibuat kapsul atau diolah menjadi krem, salep ataupun lotion.

Sebagai tanaman berkhasiat obat, pegagan telah dimanfaatkan oleh masyarakat di Asia Tenggara, India, dan China semenjak zaman prasejarah untuk berbagai macam penyakit. Sejak ribuan tahun lalu terutama oleh masyarakat India, Pakistan, Malaysia dan sebagian Eropa Timur, tanaman pegagan dipercaya bisa meningkatkan ketahanan tubuh (panjang umur), membersihkan darah, dan memperlancar air seni. Orang-orang Timur Jauh di Eropa bahkan menggunakannya untuk menyembuhkan lepra (penyakit menular kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae) dan tuberkulosis (TBC). Dalam sistem pengobatan ayurvedic di India, pegagan dikenal sebagai herba untuk awet muda dan juga tanaman ini dibuat dalam bentuk sirup tanpa alkohol untuk pengobatan epilepsi. Sementara di Thailand, pegagan digunakan sebagai tonikum dan obat diare. Di Sri Lanka, tanaman ini banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan pengeluaran air susu, sedangkan di Vietnam digunakan untuk mengatasi lemah badan karena usia lanjut (senility). Di Afrika, pegagan digunakan untuk menyembuhkan sifilis. Di Australia, pegagan telah dibuat obat dengan nama Gotu Kola yang bermanfaat sebagai anti pikun dan juga sebagai anti stress. Di Cina, pegagan dimanfaatkan untuk memperlancar sirkulasi darah, bahkan dianggap lebih berkhasiat dibandingkan dengan ginkgo biloba atau ginseng yang berasal dari Korea.

Berbagai penelitian ilmiah mengenai khasiat pegagan telah banyak dilakukan. Manfaat yang berhubungan dengan fungsi saraf dan otak telah dibuktikan lewat berbagai penelitian di luar negeri. Dari uji klinis di India, tanaman pegagan dapat meningkatkan IQ, kemampuan mental, serta menanggulangi lemah mental pada anak-anak. Sebanyak 30 orang pasien anak-anak yang menderita lemah mental menunjukkan kemajuan yang cukup berarti setelah diberi perlakuan dengan ramuan pegagan selama 12 minggu. Selain itu pegagan juga bermanfaat bagi anak-anak penderita attention deficit disorder (ADD) yang merupakan salah satu tanda adanya autisme pada anak. Hal ini karena adanya efek stimulasi pada bagian otak sehingga meningkatkan kemampuan seseorang untuk lebih konsentrasi dan fokus. Di samping itu juga mempunyai efek relaksasi pada sistem saraf yang overaktif.


Penelitian penting lainnya membuktikan, tanaman pegagan memberi efek positif terhadap daya rangsang saraf otak dan memperlancar transportasi darah pada pembuluh-pembuluh otak sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar dan memori seseorang. Pada orang dewasa dan tua penggunaan pegagan sangat baik untuk membantu memperkuat daya kerja otak, meningkatkan memori, dan menanggulangi kelelahan. Karena manfaatnya itu, tanaman ini juga dikenal sebagai "makanan otak".


Selain itu penelitian lain menunjukkan berbagai penyakit seperti skleroderma, gangguan pembuluh vena, maupun gangguan pencernaan rata-rata dapat disembuhkan dengan ramuan itu hingga 80% setelah 2-18 bulan. Hasil penelitian lain juga mengatakan sebanyak enam pasien sirosis hati menunjukkan perbaikan (kecuali yang kronis) setelah dua bulan meminum ramuan pegagan.

Mengingat manfaatnya, beberapa negara telah melakukan pembudidayaan, misalnya Hawaii. Bahkan di Oregon (USA), tanaman ini dibudidayakan di rumah kaca oleh Pacific Botanicals (pertanian herba organic). Namun, sebagian besar pasokan pasar berasal dari India yang kualitasnya kurang bagus dan biasanya berwarna kecoklatan meskipun kandungan bahan aktifnya masih cukup baik jika diproses dalam keadaan segar atau kering segar. Sementara salah satu pabrik jamu di Cina memerlukan lebih kurang 100 ton pegagan setiap tahunnya. Dari sepuluh jenis jamu yang beredar di pasaran Cina, pegagan merupakan bahan baku yang dipergunakan, dengan kadar simplisia yang dicantumkan dalam kemasannya antara 15-25%.

Secara empirik Indonesia yang disebut sebagai negara kaya rempah memang berpotensial memanfaatkan tanaman liar pegagan ini. Beberapa penelitian ilmiah lokal sudah mulai dilakukan untuk menyingkap khasiat penting dari tanaman pegagan.


Beberapa Hasil Penelitian Efek Farmakologis

1. Rebusan daun pegagan 10% yang diberikan pada anjing sebagai binatang percobaan mempunyai daya diuresis (pengeluaran air kemih) yang lebih baik dibanding rebusan air pegagan 0,5% dan 5% (Malawat Salim, JF FMIPA UNHAS, 1981)

2. Secara in vitro, infus dan ekstrak alkohol daun pegagan mempunyai daya antimikroba, khususnya terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Dalam bentuk ekstrak alkohol, harga kadar hambat minimum (KHM) atau kadar bunuh minimum (KBM) terhadap kedua jenis bakteri tersebut lebih besar dibandingkan dalam bentuk infus. Daya anti bakteri daun pegagan terhadap S. Aureus lebih besar dibandingkan terhadap E. coli. Daya antimikotik terhadap Candida albicans tidak nyata (Endang Adriyani, Fakultas Farmasi, UGM, 1987)

3. Infus daun pegagan dengan kadar 7,5% paling baik untuk melarutkan batu ginjal kalsium (Sri Endah Suhartatik, Fakultas Farmasi, UGM, 1989)

4. Ekstrak pegagan dapat menghambat pertanaman bakteri enterik, seperti Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter aerogenes, dan Salmonella typhi (Syahnida, JF FMIPA UNAND,1993)

5. Asiaticocide dan thankuniside dapat mengurang kesuburan (fertilitas)

6. Dalam dosis yang tinggi, pegagan dapat menurunkan kadar gula darah (berkhasiat hipoglikemik)

7. Asiaticoside efectif untuk mengobati lepra/kusta (Morbus Hansen)

8. Pegagan dapat dipakai untuk menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi). Penurunan tidak drastis, sehingga cocok untuk penderita usia lanjut (RSU dr.Soetomo Surabaya)

9. Asinan Pegagan sebagai Alternatif Pangan Sehat dan Alami untuk Meningkatkan Kemampuan Otak (Ine Wasillah, IPB)

Dalam buku Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid I (Prof. H. M. Hembing Wijaya, 1992) dikatakan bahwa sifat kimiawi pegagan berasa manis dan sejuk dengan efek farmakologis sebagai antiinfeksi, pembersih darah (antitoxic), penurun panas/pereda demam (antipiretik), peluruh kencing (diuretik), menghentikan pendarahan (haemostatika), anti inflamasi, anti bakteri, tonik, antispasma, hipotensif, antialergi dan stimulant, pelancar peredaran darah terutama meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki, mencegah varises dan salah urat. Manfaat pegagan lainnya yaitu sebagai hepatoprotektor pelindung sel hati dari berbagai kerusakan akibat racun dan zat berbahaya.

Menurut Prof.Dr.Ir.Latifah K Darusman, MS (Kepala Pusat Studi Biofarmaka IPB), pegagan adalah sejenis tanaman rempah yang sangat kaya manfaat. Di antara manfaat kesehatan yang bisa diberikan dari tanaman pegagan ini yaitu menangkal penyakit lepra, campak, hepatitis, demam, radang amandel, keracunan logam berat, muntah darah, wasir, dan cacingan. Selain itu Latifah juga mengatakan berdasarkan fakta ilmiah hasil penelitian di IPB, pegagan bermanfaat sekali untuk meningkatkan daya ingat dan mengandung aktivitas oksidan yang cukup baik sehingga berkaitan erat dengan ketahanan tubuh. Manfaat penting pegagan sebagai nutrisi otak karena pegagan mengandung berbagai senyawa berkhasiat obat seperti asiatikosida (triterpenoids), karotenoids, dan garam-garam mineral bermanfaat. Peranan kandungan komponen bioaktif tersebut antara lain Triterpenoids yaitu antioksidan sebagai penangkap radikal bebas yang dapat mematikan sel-sel otak dan merevitalisasi pembuluh darah. Juga kandungan vitamin yang berfungsi untuk meningkatkan stamina dan vitalitas serta sebagai antioksidan yang membantu dalam perkembangan sel-sel otak. Selain itu kandungan garam-garam mineral sebagai pembentuk sel darah merah (zat besi) yang berfungsi dalam myelinisasi otak dan peningkatan daya konsentrasi. Sehingga dari aktifitas semua senyawa bioaktif tersebut, pegagan dapat meningkatkan syaraf memori, mental dan stamina tubuh karena pegagan dapat memperbaiki sirkulasi dengan revitalisasi pembuluh darah (mempertinggi permeabilitas kapiler) serta berkhasiat sebagai penenang (sedatif) sehingga menurunkan gejala stres dan depresi karena khasiat sedatif terjadi melalui mekanisme kolinergik di susunan syaraf pusat.

Negeri kita yang dikenal sebagai A Mega Biodiversity Country memiliki berjuta kekayaan jenis tanaman obat termasuk pegagan dengan segudang manfaatnya. Mengingat betapa potensialnya pegagan bagi alternatif sumber obat kita di masa depan, masihkah kita ingin melupakannya? Bahkan hal yang lebih menarik lagi bahwa sebagai tanaman pemacu stamina dan kecerdasan otak, pegagan lebih berkhasiat dibandingkan dengan Ginkgo Biloba atau ginseng yang berasal dari Korea. Padahal produk berbasis Ginko biloba adalah produk impor yang jauh lebih mahal namun sudah membanjiri pasar kita. Jika kita sudah tahu, mengapa tidak kita gunakan pegagan sebagai gantinya Ginko Biloba? Dan yang lebih utama dari segudang manfaatnya, masihkah kita ingin menginjak-injak pegagan kita?


Referensi :

http://www.scribd.com/doc/4924205/efek-antibakterial-ekstrak-pegagan-centella-asiatica-terhadap-bakteri-Salmonella-tiphymurium

http://www.balittro.go.id/includes/Pegagan.pdf www.balittro.go.id/includes/Pegagan.pdf

http://tanaman-obat.com/index.php/gallery-tanaman-obat/186-tanaman-obat-pegagan

http://herbmedicine.blogspot.com/2007/02/pegagan-untuk-atasi-tensi-tinggi.html

http://balittro.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=24&Itemid=28

http://www.indonesiaindonesia.com/f/9091-pegagan-gantinya-ginko-biloba/

http://www.webspawner.com/users/pegagan/

http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?mnu=2&id=50

http://herbarus.multiply.com/journal/item/7

http://www.tamanmundu.com/tanaman-obat/3-obat/11-pegagan.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Pegagan

http://thibbunnabawi.wordpress.com/2007/09/04/sari-pegagan/

http://thibbunnabawi.wordpress.com/2007/11/22/khasiat-pegagan-dari-penumpas-tbc-sampai-peningkat-daya-ingat/

http://www.geocities.com/selvy_riana/pegagan_green_tea.html

http://masenchipz.com/manfaat-tanaman-pegagan

http://www.aagos.ristek.go.id/pangan_kesehatan/tanaman_obat/lipi_pdii/pegagan.htm

http://www.pernikmuslim.com/Kapsul-Herbal-%22Pegagan%22~d~799.html

http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=1022&tbl=alternatif

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0404/02/ilpeng/948005.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar